Cerita La Bandu

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

La Bandu'


Dulu, ada satu kampung. Kampung itu di pinggir pantai. Kalau sudah jam-jam sebelas ; Tata sudah pulang sekolah, angin mulai berubah arah, air laut mulai surut, dan panas sudah mulai terasa, maka terciumlah aroma ee Tata.


Di kampung itu ada satu rumah. Di rumah itu tinggal satu keluarga. Disitu ada Ambonya, ada Bunda, ada Tata, ada juga anaknya lagi satu, namanya Bandu. Bandu ini anaknya sudah besar, seperti Mumu. Tapi sifatnya masih seperti anak kecil, dia suka sekali makan Kaledde' (kerak ketan). Setiap hari : "Ambo, Kaledde !, Bunda, Kaledde" Sampe marah-marah Ambo'nya "Haaaahhhh ....". Begitu-begitu terus tiap hari.


Karena begitu terus tiap hari minta kaledde, akhirnya suatu hari Bundanya tidak tahan lagi. Karena sudah tidak tahan, Dia bilang sudah sama Ambonya : "Ambo, bagaimana kalau kita pigi Mekkah, naik perahu, tidak usah ikut Bandu". Tapi Tata ikut.
"Iya. betul, Malam ini saja kita berangkat ke Mekkah" bilang Ambo'nya. Pas mereka bicara seperti itu, eeee.. rupanya Bandu dengar. "Oooo.. rupanya anak dua itu mau tipu saya !" bilang Bandu dalam hati.


Karena tau dia mau ditinggal sendiri, Bandu cari akal. sore-sore pergi dia ke laut, pigi dia terjun di bawah perahu Ambo'nya. Tok-tok-tok, ikat. Tok-tok-tok, ikat. Tok-tok-tok, ikat. Tok-tok-tok, ikat. Mau kesini tidak bisa, kesini tidak bisa, ke samping tidak bisa, kareka diikat Bandu. Muka-belakang samping-samping.


Haaaaa... sekalinya itu, pas sudah jam tujuh malam, selesai shalat magrib, dibilang sudah Bunda :" Tata ! pangil dulu Bandu kesini" Pigi sudah Tata panggil Bandu. Pas sudah datang, dibilang sudah Ambo'nya : " Bandu, malam ini kita mau ke Mekka. kamu lihat-lihat rumah,ya. Jangan main jauh-jauh ya. Jagai bolae, ya ? ini angkat semua barang ke perahu." Seleai diangkat, puang sudah Bandu ke rumahnya.


Haaaaa.... selesai diangkat semua barang ke kapal, naik semua sudah kekapal. Pas jam –jam delapan, bertiup angin, dikasi naik layarnya, puak... puaaakkkk... Ini kapal karena diikat, bagoyang-goyang . Ambo langsung tidur pake sarung, Bunda tidur sama Tata. Ini Bunda langsung keluar amiccunya sambil manggoro’. Semua enak sekali tidurnya


Pas subuh-subuh, bunyi sudah ayam, kuuu kkukkukuuuu...., ini Bunda langsung kasi bangun Ambo.
“Ambo, melo’ pappada wangkalinga oni manu’ ki kampotta iyae ?!”.
“Haaahhh .. oni manu’ga teppada pada’. Kita sudah dekat Tanah Mappepaccingnge (Tanah Suci)” Bilang Ambo.
Ini Bunda tadiam saja sudah.


Selesai shalat subuh, sudah mulai tabberra pajangnge, maa datanglah Shekh pake jubah. Ini Ambo langsung lari bapeluk sama Syekh. Dia menagis...bacium tangan syekh. “Ka labbaik Ka labbaik...” bilang Ambo. “ Ya Allah, siapa saya ini..., kenapa bisa begini...? satu malam saja sudah Kau kirim saya ke Mekkah ...?” bilang Ambonya sambil menangis. Ini Bunda... teng...teteng.... tiada sekali sedikit menangisnya... syahdu ke. Ini Bunda cuma giling kua... giling koro.


”Alhamdulillah ... mari ke Baitul ana....” Bilang syekh. Pas sudah sampai di depan rumah Sekh, ini Bunda babisik lagi sama Ambo, “ Ambo, mau sama saya lihat ini rumahnya Tata.”
“ Huahhh, Bola ga teppada-pada. Ini rumah Sekh.” Bilang Ambo’nya sambil menagis terharu. Ta diam lagi Bunda.
Pas sudah masuk didalam rumah, ini Bunda, giling kua... giling koro... ba bisik lagi sama Ambo’nya : “ Ambo, mau sama saya lihat alat-alat di rumah kita ini, penam-penam Tata, televisi Tata, bola Tata, jam Tata, gantung-gantung Tata... “
“ Huaaaahhh, penam-penam ga teppada pada “ bilang lagi Ambo masih sambil tersedu sedu terharu karena sudah ketemu Sekh.


Pas sudah lama-lama duduk, ini Bunda sama Tata kasi keluar semua bekal makanan. Ada Pepaya, ada teh, ada ikan, ada nasi, ada jely, ada apel, ada reechess, ada kacang, ada juga ..... Kaledde.... Ini Sekh liat Kaledde langsung tidak tahan. Kaledde semua dia makan sampai habis .. yammm..yammmm... “ Tambah, ana lapaf..” bilang Sekh. Buda kasi lagi kaledde. Habis lagi dimakan Sekh. Tau seperti itu, ini Ambo langsung dia seka depe air mata baperhatikan Sekh. Apa yang terjadi ? “ Masya Allah... kamu Bandu ??? ”
Dia tahu dia sudah ketahuan, Bandu langsung loncat dari duduknya, lari. Ini Ambo langsung bakejar pake sapu. Tata juga bakejar Bandu. “Tunggu kamu Bandu. Mappagguru bebe’ tama toa (ba kasi ajar bodo orang tua “ teriak Ambo’.
Tiga-tiga baku kejar ba keliling rumah. Pas tabuka sedikit pintu, ini Bandu lari ke teras, loncat ke tanah, tidak lagi lewat tangga. Dibawah rumah lagi baku kejar. Tabuka lagi pintu pagar, lari lagi Bandu ke jalan. Ini Jubah terbang-terbang seperti Superman, janggot sama kumis lepas. Lari ...lariii terus “ taje tawamu Bandu... mappagguru bebe tana toa, ana dorakako ..” lariii..lariiii lariii...
Tattumpu ki ponna alosi e, maddenne capu’-capu’na, cappu’ni.
(Ta tabrak di pohon pinang, rontok beang sarinya, selesai sudah.)


Share artikel ke: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg

0 komentar:

Posting Komentar